JANGAN BUNUH MASA EMAS ANAK !!!

Prolog
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 ayat 14 menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan… untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan ruhani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Keberadaan PAUD sebagai sarana memfasilitasi potensi besar anak. Hasil penelitian longitudinal Bloom menyebutkan bahwa 50% perkembangan kecerdasan anak terjadi sampai usia 4 tahun, 80 % pada usia 8 tahun, dan puncaknya pada usia 18 tahun. Merujuk pendapat tersebut para ahli sering menyebutnya sebagai fase golden age/ usia emas. Oleh karena itu, jangan pernah sia-siakan masa ini, karena hanya terjadi sekali seumur hidup.
Ketika kita memandang pentingnya pembinaan masa usia dini. Data Direktorat Pembinaan PAUD (Dirjen PAUD, Nonformal dan Informal, 2012: 1) menunjukan bahwa pada awal tahun 2010 dari sekitar 28,9 juta anak, ternyata hanya 25,6 % atau 7,4 juta anak yang terpenuhi kebutuhan pendidikannya. Ini menunjukkan bahwa sekitar 74,4 % atau 21,5 juta anak belum terpenuhi kebutuhan pendidikannya. Hal ini memerlukan perhatian serius agar anak mendapatkan layanan yang optimal untuk mengembangkan segala potensi dan kecerdasan yang dimiliki.

Makna Kecerdasan
Pendidikan anak usia dini merupakan pendidikan yang sangat mendasar hal ini dikarenakan masa usia dini merupakan masa emas perkembangan anak, yang apabila pada masa tersebut anak diberikan stimulasi yang tepat akan menjadi modal penting bagi perkembangan anak di kemudian hari. Dalam hal ini pendidikan anak usia dini paling tidak mengemban fungsi melejitkan seluruh potensi kecerdasan anak, pengembangan perilaku, dan pengembangan kemampuan dasar.
Berkaitan dengan kecerdasan anak, pembinaan pada masa anak usia dini merupakan momentum yang tepat dalam meningkatkan kecerdasan itu sendiri, sehingga dibutuhkan perhatian khusus dalam menyikapi masa usia dini ini.
Kecerdasan tidak bisa hanya diidentikan dengan IQ saja, namun ada berbagai kecerdasan yang lainnya. Pandangan Howard Gardner (1983) melalui teori kecerdasan jamak (multiple intelligences) menyatakan bahwa kecerdasan meliputi delapan kemampuan intelektual. Kecerdasan itu meliputi kecerdasan linguistik, kecerdasan matematis logis, kecerdasan spasial, kecerdasan kinestetis-jasmani, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Teori kecerdasan jamak ini dikembangkan oleh Gardner berdasarkan pandangannya bahwa kecerdasan pada saat sebelumnya hanya diukur dari segi logika dan linguistik. Padahal, ada berbagai kecerdasan yang lain yang belum diperhatikan.
Selanjutnya Howard Gardner (Rachmani, 2006: 4) menyatakan bahwa kecerdasan tidak dipandang hanya berdasarkan pada skor standar semata, melainkan dengan ukuran: (1) kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan individu; (2) kemampuan untuk menghasilkan persoalan-persoalan baru untuk diselesaikan; (3) Kemampuan untuk menciptakan sesuatu atau memberikan penghargaan dalam budaya seseorang.
Anak memiliki berbagai kecerdasan yang perlu dikembangkan. Hal ini akan terwujud apabila lembaga formal termasuk didalamnya Raudhatul Athfal (RA) atau Taman Kanak-kanak (TK) memfasilitasi kebutuhan anak. Sebagaimana dijelaskan oleh Thomas Armstrong (2002:17) bahwa setiap orang sebenarnya memiliki kemampuan mengembangkan kedelapan kecerdasan sampai pada kinerja tingkat tinggi yang memadai apabila ia memperoleh cukup dukungan, pengayaan, dan pengajaran.

Merangsang Kecerdasan Jamak
Keberadaan sarana prasarana yang berada di sekolah atau rumah sangat penting dalam merangsang kecerdasan. Hasil penelitian Mubiar Agustin (2006) tentang penataan ruang untuk pengembangan kecerdasan jamak anak dapat berupa:
1. Ruang pusat kegiatan linguistik berupa ruang baca, laboratorium bahasa, dan pusat tulis menulis
2. Ruang pusat kegiatan matematis-logis berupa laboratorium matematika, pusat ilmu alam
3. Ruang pusat kegiatan spasial berupa wilayah seni, pusat media visual dan wilayah penalaran visual
4. Ruang pusat penalaran kinestetis-jasmani berupa ruang terbuka untuk gerak kreatif, pusat kegiatan keterampilan gerak, area belajar taktis dan pusat kegiatan drama
5. Ruang pusat kegiatan music berupa laboratorium music, pusat music panggung, alat-alat music
6. Ruang pusat kegiatan interpersonal berupa meja bundar untuk diskusi, bangku berpasangan, wilayah sosial
7. Ruang pusat kegiatan intrapersonal berupa meja belajar bersekat, tempat penyimpanan data
8. Ruang pusat kegiatan naturalis berupa pusat tanaman, pusat fauna dan pusat akuatik.

2 Responses to JANGAN BUNUH MASA EMAS ANAK !!!

  1. amtortesdi says:

    Check this out

    […] that is the end of this article. Here you’ll find some sites that we think you’ll appreciate, just click the links over[…]…

  2. Free Piano says:

    Free Piano

    Just desire to say your article is as amazing. The clarity in your post is simply nice and i can assume youre an expert on this subject. Well with your permission allow me to grab your RSS feed to keep updated with forthcoming post. Thanks a million an…

Leave a Reply