KAITAN ANTARA LITERASI DAN BERMAIN: SINTESIS DAN ARAH PENELITIAN

Bermain Perspektif Teoritis
Bermain (Musthafa, 2008: 20) merupakan perilaku yang bersifat relatif, bergerak dari kontinum sangat main-main sampai kurang main-main (playful). Maksud relative disini dapat diartikan bahwa bermain dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang disiplin ilmu, seperti psikologi, sosiologi dll, sehingga memungkinkan hadirnya definisi yang berbeda.
Meskipun terdapat perbedaan sudut pandang dari berbagai disiplin ilmu, namun terdapat titik tengah yang bisa kita ambil. Setidaknya ada dua titik focus yang bersinggukan yaitu:
1. Perspektif Psikologis
Perspektif ini memandang bahwa bermain sebagai dasar psikologis yang mendorong perilaku bermain dan fungsinya secara relative untuk perkembangan anak. Alur penelitiannya melatih bermain dan analisis wacana bermain, dengan tokoh: Piaget, Vygostsky, Freud dan Bruner.
2. Perspektif budaya
Perspektif ini melihat bermain sebagai bentuk komunikasi sosial yang mencerminkan anak tentang norma dan nilai budaya. Titik fokusnya adalah bagaimana bahasa sebagai alat berkomunikasi dalam lingkup interaksi sosial. Adapun tokohnya adalah Gravey, Schwartzman dll.

Ciri-ciri Bermain Anak
Menurut Fromberg (Musthafa, 2008: 20) bermain mempunyai sifat seperti simbolik yaitu bermain sebagai bentuk refresentasi dari kehidupan nyata; bermakna bisa diartikan sebagai bentuk kaitan dengan pengalaman; aktif yaitu berbagai hal dicoba; menyenangkan; sukarela dan termotivasi serta digerakan dengan aturan permaina baik tertulis atau tidak.

Penelitian kaitan Literasi-Bermain
Istilah literasi merupakan istilah pengganti dari baca-tulis, menyebar pemakaiannya karena teori dan hasil penelitian bahwa membaca, menulis dan bahasa lisan berkembang sejalan dalam lingkungan yang literat. Pemerolehan literasi merupakan sifat aktif dari anak itu sendiri, karena anak-anak merupakan pembangun makana yang aktif.
Penelitian Pappas ( Musthafa, 2008: 23) bahwa anak usia prasekolah yang bermain pura-pura membaca mengindikasikan bahwa anak usia taman kanak-kanak memiliki pengetahuan batin tentang penggunaan secara sosial berbagai bentuk tekstual, sedangkan Hicks (Musthafa, 2008: 23) menemukan bahwa peniruan anak-anak atas film bisu menguatkan pendapat bahwa anak memiliki pengetahuan, walaupun tersirat, tentang keragaman bentuk naratif sebagai fungsi untuk berinteraksi dalam konteks yang berlain-lainan dari berbagai hubungan peran dan factor situasional.

Arah Penelitian Mendatang
Arah penelitian mendatang akan menjanjikan apabila penelitian membidik sosial-budaya. Konteks sosial-budaya sangat erat dengan kehidupan anak. Penelitian yang menangkap fenomena dengan tepat akan menghasilkan penelitian yang berkualitas serta berkonstribusi besar terhadap dunia pendidikan. Penelitian melalui pendekatan sosial-budaya dalam literasi bermain akan meberikan wawasan dunia kehidupan atau “life-worlds” anak-anak.

Referensi
Musthafa, Bacrudin. (2008). Dari Literasi Dini ke Literasi Teknologi. Jakarta: PT. Cahaya Insan Sejahtera

One Response to KAITAN ANTARA LITERASI DAN BERMAIN: SINTESIS DAN ARAH PENELITIAN

  1. amtortesdi says:

    Websites worth visiting

    […]here are some links to sites that we link to because we think they are worth visiting[…]…

Leave a Reply