MENGGALI KEBERADAAN BUDAYA JAWA DI TATAR SUNDA

Sekilas tentang Basa Sunda
Basa Sunda pada umumnya masih digunakan oleh sebagian besar masyarakat Jawa Barat untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Frekuensi pemakaian bahasa Sunda di pedesaan cukup tinggi. Orang Sunda sebagai penutur asli bahasa itu telah berusaha untuk memelihara dan mengembangkan secara sungguh-sungguh. Hal itu sangat penting, karena bahasa Sunda merupakan bagian dari kebudayaan Sunda yang berfungsi sebagai alat atau wahana untuk mengembangkan kebudayaan Sunda.
Hasil seminar Politik Bahasa Daerah menyebutkan bahwa kedudukan dan fungsi bahasa Sunda sebagai bahasa daerah dilindungi oleh Undang-Undang. Hal ini sesuai dengan penjelasan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 36 yang menyatakan bahwa :
Di daerah-daerah yang mempunyai bahasa sendiri, yang dipelihara oleh rakyatnya dengan baik-baik (misalnya bahasa Jawa, Daearh, Manudara, dan sebagainya) bahasa-bahasa itu akan dihormati dan dipelihara juga oleh Negara. Bahasa-bahasa itu pun merupakan sebagian dari kebudayaan Indonesia yang hidup (P4 dan UUD 1945:34).

Dalam kedudukannya sebagai bahasa daerah, bahasa Sunda memiliki fungsi sebagai (1) lambang kebanggaan daerah, (2) lambing identitas daerah, (3) alat komunikasi di lingkungan keluarga dan masyarakat daerah, (4) pendukung bahasa nasional, (5) bahasa pengantar di sekolah dasar di daerah tertentu pada tingkat permulaan; dan 96) alat pengembagna serta pendukung kebudayaan daerah (Politik Bahasa Nasional 2, 1978:46).
Berdasarkan uraian di atas, maka jelaslah bahwa kedudukan dan fungsi bahasa Sunda (Daerah) dipelihara dan dikembangkan oleh pemerintah; karena dijamin oleh UUD 1945.
Dalam era globalisasi ini, batas-batas nasional tampak semakin kabur dan pertukaran informasi serta perpindahan manusia menjadi semakin padat. Teknologi komunikasi dan transpportasi telah mampu mengakomodasi fenomena ini akan tetapi, dampak dari hal itu akan menimbulkan pengurangan frekuensi penggunaan bahasa daerah di masyaakt. Hal ini dapat dibuktikan oleh berbagai ahli bahasa dan tokoh masyarakat Jawa Barat menganggap bahwa dewasa ini ada penurunan dan penyempitan pemakaian bahasa Sunda oleh kalangan masyarakat Jawa Barat. Pembukaan zona perdagangan bebas di beberapa kawasan membuat orang-orang harus berkomunikasi satu sama lain dalam bahasa asing. Hal inilah yang menyebabkan kedudukan dan fungsi bahasa daerah semakin merosot.
Secara kondisional bahasa Sunda berkedudukan sebagai bahasa daerah atau dengan kata lain sebagai bahasa kedua setelah bahasa Indonesia yang berkedudukan sebagai bahasa nasional; bahasa Sunda merupakan bahasa ibu di sebagian besar masyarakat Jawa Barat. Karena kenyataan ini, pembelajaran bahasa Sunda di kelas-kelas awal SD harus disesuaikan dengan prinsip pembelajaran bahasa kesatu sebagai kelanjutan dari hasil pembelajaran di lingkungan keluarga siswa.
Sebagai alat komunikasi, bahasa Sunda digunakan untuk bertukar pesan (pikiran, perasaan, dan keinginan), baik lisan maupun tulisan, menyertai berbagai segi kehidupan masyarakat penuturnya. Dalam fungsinya untuk menggunakan imajinasi dan kreativitas, bahasa Sunda juga telah menghasilkan aneka ragam bentuk dan jenis karya sastra dalam tradisi yang telah bersejarah. Oleh karena itu, bahasa Sunda dapat dijadikan bahasa pengantar dalam pendidikan. Selain itu, pendidikan di Jawa Barat harus berdasarkan muatan-muatan local, termasuk bahasa daerah.

Akulturasi Kebudayaan
Kebudayaan didasari oleh nilai-nilai tradisional yang merupakan bidang garapan mengenai budaya masyarakat mengandung unsure-unsur pandangan yang hidup dan berakar di masyarakat. Unsure-unsur Nilai Tradisional antara lain meliputi: nilai penting dan bernilai dalam kehidupan abstrak mengenai dasar-dasar dari suatu hal yang penting dan bernilai dalam kehidupan manusia. Nilai budaya ini terkandung dalam Upacara tradisional, permainan rakyat dan naskah kuno, system budaya yaitu rangkaian gagasan, norma adat istiada yang menata tingkah laku manusia dalam masyarakat dan merupakan wujud idiologis, kebudayaan. System budaya ini terdiri dari; system kemasyarakatan, system religi, ilmu pengetahuan, sitem ekonomi tradisional, dan system teknologi tradisional. Sedangkan lingkungan budaya yaitu keadaan system dan nilai budaya, adat istiadat dan cara hidup masyarakat yang mengelilingi ekhidupan seseorang. Lingkungan budaya mencakup: pola lingkungan budaya, perubahan lingkungan budaya dan hubungan antar budaya.
Secara demografis masyararakat Garut, Bandung, Indramayu, Tasikmalaya, Cirebon, Ciamis, dan yang lainnya terletak di daerah Jawa Barat yang umumnya terdiri dari suku bangsa Sunda. Menurut Koentjaraningrat secara antropologis budaya suku bangsa Sunda adalah orang-orang yang secara turun temurun menggunakan bahasa ibu bahasa Sunda serta dialeknya dalam kehidupan sehari-hari, bertempat tinggal di daerah Jawa Barat, yang sering disebut dengan Tatar Sunda atau Tanah Sunda. Sukubangsa Sunda memiliki identitas seperti sopan, ramah, baik hati, jujur, senang menerima tamu, penuh perasaan, materialistis dan rapi.
Dalam buku Sejarah Sunda, arti kata Sunda dapat dijelaskan dari berbagai bahasa, seperti dalam bahasa Sansekerta, Sunda berarti bersinar dan terang, dalam bahasa Kawi Sunda berarti air, tumpukan, pangkat, waspada. Dalam bahasa Jawa, Sunda berarti bersusun, berganda, kata atau suara, sedangkan dalam bahasa Sunda, Sunda berarti bagus, indah, cantik, unggul dan menyenangkan. Berdasarkan identitas dan arti Sunda di atas mencerminkan bahwa memang orang-orang sunda sangat menyukai dengan penampilan yang rapi dan bagus.
Di bidang kesenian daerah ini memiliki khasanah perbendaharaan yang cukup kaya. Wayang golek merupakan seni petunjukan yang sangat disukai segenap lapisan masyarakat. Instrument music tradisional dari daerah ini adalah kecapi, gedung, dan angklung bambu. Lagu-lagu Sunda memiliki nada-nada minor yang sentimental (menyentuh rasa). Begitu juga seni yang lainnya, yang menjadi cirri khas suku Sunda di Jawa Barat.
Namun, di beberapa daerah di wilayah Jawa Barat atau sering di sebut Tatar Sunda, ada beberapa masyarakat yang tinggal di tatar sunda yang menggunakan bahasa selain bahasa Sunda, melainkan bahasa Jawa. Inilah yang disebut dengan akulturasi budaya.
Akulturasi budaya jawa ini sudah ada sejak awal-awal masa kerajaan di pulau Jawa. Orang Sunda yang menghudi bagian barat pulau Jawa sudah secara dini mengenal aksara. Prasasti-prasasti dinasti Tarumanagara yang ditemukan, ditarikhkan berasal dari abad ke-5 Masehi. Prasasti-prasasti ini ditulis dalam bahasa Sansekerta. Lama-kelamaan kemudian orang-orang Sunda pun menuliskan karya sastra mereka menggunakan bahasa Sunda kuno.
Lalu bagaimana dengan pengaruh budaya Jawa di wilayah tatar sunda ini, tapatnya di Desa Pamarican Kecamatan , kita akan menelisik pengaruh ini dari masa lampau. Diantaranya antara bagian barat pulau jawa, tempat tiggal suku Sunda dan bagian timur, tempat tinggal suku Jawa yang sejati, sejak zaman dahulu kala sudah terjadi hubungan secaar intensif. Sebenarnya batas timur budaya Sunda pada abad ke-5 Masehi diperkirakan berada kurang lebih di garis antara daerah yang sekarang di sebut Kendal dan Dieng dan sekarang terletak di provinsi Jawa Tengah. Namun berkat ekspansi sukubangsa Jawa menuju ke barat, perbatasan antara buaya Sunda dan budaya Jawa berada lebih ke barat yaitu di sekitar Indramayu, Cirebon, sampai Cilacap. Kemudian ada pula beberapa enclave di Jawa, terutama di Banten dan beberapa desa di Karawang dan Ciamis yang dekat dengan Cilacap (salah satu daerah di wilayah Jawa Tengah).
Pengaruh-pengaruh budaya Jawa juga sudah terlihat dalam karya-karya sastra Sunda kuna. Ditemukan ada beberapa kata-kata serapan dari bahasa Jawa (Kuna) dan beberapa karya sastra Jawa Kuna banyak pula yang dipelajari dan kemudian diterjemahkan dalam bahasa Sunda Kuna. Bahkan naskah tertua sastra Jawa Kuna berasal dari daerah Sunda di Jawa Barat. Misalkan naskah kakawin Arjunawiwaha berasal dari daerah sekitar Bandung. Naskah ini sekarang di simpan di Perpustakaan Nasional RI dan bertarikhkan tahun 1334 Masehi. Selain Arjunawiwaha masih ada karya-karya sastra Jawa Kuna yang berasal dari daerah Sunda, seperti misalkan Kunjarakarna.
Namun pengaruh yang efeknya lebih terasa dan lestari terjadi pada abad ke-616 dengan penyebaran agama Islam di pulau Jawa serta ekspansi kerajaan Mataram II yang dipimpin oleh Sultan Agung. Sultan Agung ingin mempersatukan pulau Jawa dan sekitarnya dalam kerangka Negara kesatuan Mataram. Meski hegemoni Mataram atas Jawa Barat berakhir pada tahun 1705, pengaruh budaya Jawa tidaklah berakhir, justru malah diperkuat dengan ditetapkannya bahasa Jawa sebagai bahasa resmi pemerintah di Jawa Barat dan diputuskannnya pemakaian system pembagian administrative. Pembagian administrative model Jawa ini adalah pembagian daerah kepada kabupaten-kabupaten yang berbeda-beda.

Implikasi Terhadap Pendidikan
Akulturasi budaya Jawa dan Sunda ini, sepertihalnya terjadi di wilayah Kab. Ciamis yang dikenal sebagai pusat kerajaan Galug dan sering di sebut Tatar Galuh. Tatar galuh ini mayoritas warganya menggunakan bahasa ibunya yaitu bahasa Sunda. Sehingga segala aktivitas sehari-hari yang dilaksanakan oleh warga tersebut menggunakan bahasa pengantar dengan bahasa Sunda. Hal itu berlaku dalam bidang perekonomian, pemerintaha, dan pendidikan.
Misalnya pengaruh budaya dalam bidang pendidikan. Bahasa pengantar yang digunakan mayoritas Sunda dan bahasa Nasional. Sehingga pelajaran yang berkaitan dengan Mulok atau Seni Budaya Kebudayaan (SBK) mengacu pada bahasa yang digunakan sehari-hari antara guru, siswa dan pihak masyarakat sekitar.
Namun, berbeda dengan yang berlaku di sebagian wilayah kab. Ciamis, tepatnya di Kecamatan Sukajadi. Kecamatan Sukajadi ini, terdapat beberapa dusun yang masyarakatnya menggunakan bahasa ibunya dengan bahasa Jawa. Padahal jika kita telusuri, Kecamatan Sukajadi ini termasuk daerah di kabupaten Ciamis yang notebene penggunaan bahasanya yaitu bahasa Sunda.
Akan tetapi peristiwa tersebut sudah berlangsung sejak lama. Pada dusun-dusun tersebut tentu bercampur antara masyarakat yang menggunakan bahasa sehari-harinya dengan bahasa Sunda dan bahasa Jawa, baik dalam komunikasi dan interaksi sosial. Jika diantara mereka ada yang kurang dimengerti, meraka menggunakan bahasa pemersatu, yaitu bahasa Nasional, bahasa Indonesia.
Sehingga keadaan ini berpengaruh terhadap penerapan pendidikan bagi para siswa sekolah di daerah/ dusun tersebut. Guru menggunakan Bahasa Indonesia dalam proses pembelajaran agar dipahami oleh semua siswa. adapun dalam pergaulan sehari-hari disesuaikan dengan bahasa aslinya, missal yang berasal dari jawa menggunakan bahasa jawa.
Maka dari itu, ide cemerlang dalam tulisan ini alangkah lebih baik apabila diperdalam melalui penelitian baik oleh antroplog maupun pemerhati budaya lainnya, sehingga dapat memberikan pengetahuan dan pembaharuan pola untuk memahami kedua budaya tersebut dan mengambil hal terpenting bagi pendidikan yang berlangsung.

2 Responses to MENGGALI KEBERADAAN BUDAYA JAWA DI TATAR SUNDA

  1. Free Piano says:

    Free Piano

    Thanks heaps for this!… if anyone else has anything, it would be much appreciated. Add Your Link Free in Popular Webdirectory http://www.Directory.M106.COM Thx & Enjoy!

  2. amtortesdi says:

    Read was interesting, stay in touch…

    […]please visit the sites we follow, including this one, as it represents our picks from the web[…]…

Leave a Reply