Daily Archives: January 30, 2012

Menatap Masa Depan yang Cerah

Hari kemarin adalah sejarah, hari esok adalah misteri dan hari ini adalah realita tempat kita berkarya. Itulah ungkapan yang tepat yang perlu kita tanamkan dalam diri. Kita tidak perlu risau dengan “kegelapan” masa lampau, karena itu telah berlalu. Kita tidak perlu bersedih apabila masa depan belum jelas, yang perlu kita pikirkan hari ini adalah bagaimana bisa berkarya dengan baik dan optimal. Karena karya-karya nyata kita hari ini akan mencerminkan masa depan kita yang lebih cerah.
Besyukurlah pada yang kuasa karena hari ini kita diberi nikmat. Tak pernah sedetik pun kita terlupakan oleh sang pencipta. Nikmat diberi umur, nikmat bernafas, nikmat sehat dan nikmat yang lain yang sudah Nampak dan belum Nampak, yang terpikir dan yang tak terpikir. Bisa terbayang oleh kita semua, seandainya jantung oleh Tuhan diistirahatkan barang satu menit saja. Kita tentu sudah tak bernyawa lagi, karena tak ada yang memompa darah.
Karya nyata merupakan bentuk dari rasa syukur terhadap Tuhan. Semakin berkualitas karya nyata kita, akan semakin menunjukan bahwa rasa syukur kita tinggi. Karya yang memiliki cita rasa tinggi akan dihargai banyak orang. Hukum alam menjadikan kita tangguh dan berbudaya. Semakin menyatunya diri kita dengan alam, semakin kita menyadari bahwa kita adalah bagian dari alam itu sendiri.
Tak ada kesempatan kita untuk menghabiskan waktu untuk hal yang tidak perlu. Yang ada hanyalah terus berkarya dan terus berkarya demi pengabdian kita kepada Sang Pencipta yang telah memberikan kesempatan untuk berkarya. Waktu kita tidak terlalu banyak dibandingkan dengan tugas yang kita miliki.
Terus berkarya dan bersiap-siagalah…

Terapkan Pedagogik untuk Guru

Miris sekali ketika kita mendengar ada “oknum” guru melakukan penganiyayaan terhadap siswanya. Hal ini mencederai wajah pendidikan yang sedang mencari bentuk ideal di negeri ini. Seorang guru tidak sewajarnya melakukan tindakan kekerasan dalam kegiatan belajar mengajar (KBM). Apalagi di kalangan masyarakat seorang guru sudah disebut sebagai sosok untuk “digugu” dan “ditiru”.

Bisa dibayangkan masa depan bangsa ini jikalau pendidikan dilakukan dengan kekerasan.Tidak alasan bagi seorang guru untuk melakukan tindakan kekerasan kepada siswanya meskipun dengan dalih bagian dari proses pembelajaran, sebab pendidikan dilaksanakan untuk memanusiakan manusia.

Seyogyanya seorang guru mengkaji ulang cara mengajar disesuiakan dengan ilmu pedagogik (ilmu tentang mendidik anak), sehingga tidak ada pembelajaran dengan menggunakan kekerasan. Memang dalam alat pendidikan setelah pemberian tauladan, nasihat dan Reward (hadiah), ada yang dinamakan Punishment (hukuman). Akan tetapi hukuman yang dimaksud dalam rangka mendidik bukan untuk melukai. Karena siswa merupakan anak yang dititipkan orang tuanya kepada pihak sekolah.

Oleh sebab itu, seorang guru senantiasa menjaga kesabaran dan keuletan dalam menjalankan tugas mulia yaitu mengajar. Keterlibatan orang tua juga mempengaruhi bagaimana proses pendidikan ini akan semakin baik. Hal ini akan lebih sempurna lagi apabila pengawas pendidikan ikut andil dalam mengawal proses pendidikan untuk generasi bangsa yang lebih baik.

Semoga kita dapat mengambil hikmah yang besar dengan kejadian di atas. Harapan besar pendidikan menjadi pondasi dalam mewujudkan negara yang adil, makmur dan sejahtera.